KILASGARUTNEWS.id|Aksi peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kabupaten Garut, Senin (4/5/2026), berlangsung panas dan penuh pesan kuat. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Institut Pendidikan Indonesia Garut bersama sejumlah organisasi kemahasiswaan turun langsung ke depan Gedung DPRD Garut, menuntut perubahan nyata di sektor pendidikan.
Aksi ini melibatkan berbagai elemen kampus seperti HIMADIKGUSEDA, HIMADIKPOLKUM, BEM FPSIBS, HIMADIKTI hingga Lembaga Pers Mahasiswa. Mereka kompak menyuarakan tuntutan tegas: peningkatan kesejahteraan guru serta perlindungan hukum yang lebih kuat bagi tenaga pendidik.
Orasi bergema lantang, menyoroti masih banyaknya persoalan klasik pendidikan yang belum terselesaikan. Mahasiswa menegaskan, tanpa keberpihakan nyata kepada guru, kualitas pendidikan hanya akan jalan di tempat.
Namun di tengah panasnya aksi, muncul momen yang justru mengguncang nurani. Ketua BEM IPI Garut, Azhar Gifari, bertemu dengan seorang anak kecil yang berjualan makanan di sekitar lokasi aksi.
Fakta yang terungkap membuat suasana berubah haru. Anak tersebut masih duduk di kelas 5 SD dan berstatus yatim. Ia terpaksa berjualan demi memenuhi kebutuhan sekolah sekaligus bertahan hidup sehari-hari.
Kisah ini langsung diangkat dalam orasi mahasiswa. Suara lantang berubah menjadi refleksi keras: di saat tuntutan pendidikan digaungkan, masih ada anak yang harus berjuang sendiri demi tetap sekolah.
Aksi tersebut mendapat respons cepat dari Yudha Puja Turnawan dan Iwan yang hadir di lokasi. Keduanya tak tinggal diam dan langsung memberikan perhatian terhadap kondisi anak tersebut.
Tak berhenti pada aksi simbolik, langkah nyata langsung dilakukan. Mahasiswa IPI Garut bersama pihak DPRD dan Dinas Pendidikan turun langsung mengunjungi rumah sang anak. Bantuan pun diberikan, mulai dari perlengkapan sekolah, beras, hingga pendampingan belajar melalui program les.
Peristiwa ini menjadi tamparan sekaligus pengingat keras: perjuangan pendidikan tak cukup hanya lewat orasi dan tuntutan. Aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat adalah bukti keberpihakan yang sesungguhnya.
Dari jalanan tempat suara disuarakan, lahir kepedulian yang memberi harapan baru—bahwa pendidikan bukan sekadar wacana, tapi perjuangan nyata untuk masa depan.
(dk)











