PD Parmusi Garut Menolak Adanya Kenaikan Harga Gas LPG 3 Kg Subsidi di Kabupaten Garut - Kilas Garut News

PD Parmusi Garut Menolak Adanya Kenaikan Harga Gas LPG 3 Kg Subsidi di Kabupaten Garut

Avatar photo

- Reporter

Rabu, 29 Maret 2023 - 03:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KILASGARUTNEWS.id|Bupati Garut telah menaikan harga (HET) gas LPG 3 kg bersubsidi belum lama ini. Dengan hal itu Pimpinan Daerah (PD) Parmusi Kabupaten Garut menyatakan menolak atas kenaikan harga tersebut.Demikian juga lanjut disampaikan ketua PD Parmusi, Dedi Kurniawan pada Selasa (28/3/2023).

Menurut Dedi, kenaikan harga gas LPG 3 kg di Kabupaten Garut sangat tidak rasional, sebab mendengar penjelasan dari kadisperindag Kabupaten Garut hanya 2 alasan dasar pertimbangan Bupati menaikan harga gas LPG 3 kg dari Rp. 16.400 menjadi 19.500.

Alasan yang pertama karena beban operasional pengiriman Gas LPG 3kg ke daerah menjadi bertambah akibat kenaikan harga BBM dan setelah studi banding ke Kabupaten lain”. Ungkapnya.

“Kita kritisi kedua pertimbangan kenaikan Gas LPG 3 Kg tersebut” ungkapnya.

Jika karena beban operasional dampak kenaikan BBM, maka hitungannya, jika pengiriman ke Garut selatan biasanya 1 kali keberangkatan mengeluarkan anggaran untuk BBM jenis solar sekitar Rp. 200.000.

Setelah ada kenaikan BBM menjadi Rp. 300.000 sekali berangkat pengiriman gas 3 kg, berarti ini ada selisih sekitar Rp. 100.000 add cost yang harus dikeluarkan oleh pengusaha Gas jika di bagi 560 tabung maka hitungannya masih di bawah Rp. 200/tabung dampak dari kenaikan BBM yang berdampak terhadap operasional pengiriman tersebut, sehingga dianggap wajar jika ada penyesuaian harga di kisaran Rp.17.000/tabung, namun dengan angka Rp. 19.500 ini merupakan kedzoliman yang terstruktur”. Tandas Dedi.

Baca Juga :  Bentuk Pelayanan Prima Polsek Wanaraja Polres Garut Tempatkan Personel Antisipasi Kemacetan

Alasan ke dua, sambung Dedi mengatakan, karena hasil studi banding ke Kabupaten lain, soal harga Gas tidak bisa di studi bandingkan sebab, penentuan HET suatu daerah akan sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi daerah.

Artinya alangkah tidak bijak, tidak ilmiah, tidak rasional jika alasan kenaikan harga gas bersubsidi dasar pertimbangannya studi banding. Bahkan HET itu cermin kualitas kepedulian seorang pemimpin kepada rakyatnya” katanya.

Yang diharapkan oleh masyarakat bukan kenaikan gas justru ketegasan dari pemda dan memberi sanksi kepada orang yang diduga mafia pengusaha gas, sebab terindikasi banyak pengusaha yang di pinjam identitasnya. Padahal dia sama sekali tidak pernah punya usaha jual beli gas (agen). Artinya pangkalan bodong alias fiktif yang dimanfaatkan oleh oknum pengusaha gas di Garut.

Baca Juga :  Bupati Garut Berharap Pembangunan MPP Dilakukan Secara Serius

Disamping itu pula,kata Dedi, bupati harus melakukan ketegasan terhadap HET yang ada yaitu Rp. 16.400, sebab realitas dilapangan HET diwarung pengecer diperkotaan kisaran Rp. 20.000-25.000/tabung, bahkan di Garut Selatan mencapai Rp. 30.000-35.000, dan semua diam, Hiswana diam, disperindag diam, DPRD diam, bupati diam melihat ke berutalan harga gas di lapangan yang sangat mencekik rakyat kecil.

Aneh nya semua diam terkesan negara ini seperti gak ada aturan, warga miskin, masyarakat tidak mampu, masyarakat pelosok pinggiran kita sepertinya tidak diperdulikan oleh pemerintah Daerah Garut.

Untuk itu wajar masyarakat Garut sekarang berontak dan teriak, serta menolak karena saking sakit nya kebijakan ini dirasakan oleh masyarakat kecil, pelaku UMKM dan lainnya.”tuturnya

“Kami Pengurus Daerah Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Kabupaten Garut menyatakan menolak kenaikan Gas LPG 3 Kg, dan mendesak Bupati memberikan sanksi kepada pelaku usaha Gas yang diduga melakukan praktik mafia gas dengan membuat agen bodong, juga menindak tegas pengecer yang menjual di atas HET Rp.16.400”. Pintanya.(Agus*).

Berita Terkait

Akses Sempat Terputus, Jalur Banjarwangi–Singajaya Kini Kembali Lancar
Di Tengah Tekanan Anggaran, Bank BJB Kucurkan 239 Juta untuk 22 Masjid di Garut
Polres Garut dan Instansi Terkait Lakukan Pengecekan Jembatan Putus di Pakenjeng
KKL Pasis Seskoad di Garut, Perkuat Ketahanan Nasional Hadapi Bencana
Bupati Garut Resmikan Aula LPTQ, Cetak Generasi Qurani Berprestasi
Tanah Longsor di Cihurip, Jalur Garut–Pameungpeuk Sempat Tak Bisa Dilalui
40 Menit Pria Ini Tergantung Tersengat Listrik Usai Pasang Baliho
Jembatan Cikeunyat Kembali Longsor Diterjang Hujan Deras, Warga Sukaratu Desak Pembangunan Permanen
Berita ini 112 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 08:07 WIB

Akses Sempat Terputus, Jalur Banjarwangi–Singajaya Kini Kembali Lancar

Sabtu, 11 April 2026 - 09:29 WIB

Di Tengah Tekanan Anggaran, Bank BJB Kucurkan 239 Juta untuk 22 Masjid di Garut

Kamis, 9 April 2026 - 20:25 WIB

Polres Garut dan Instansi Terkait Lakukan Pengecekan Jembatan Putus di Pakenjeng

Rabu, 8 April 2026 - 21:34 WIB

KKL Pasis Seskoad di Garut, Perkuat Ketahanan Nasional Hadapi Bencana

Rabu, 8 April 2026 - 21:25 WIB

Bupati Garut Resmikan Aula LPTQ, Cetak Generasi Qurani Berprestasi

Berita Terbaru

 

ALERT : Content Is Protected !!