KILASGARUTNEWS.id|Sosok Kapolsek Wanaraja AKP Abusono, S.H., M.H. menjadi perhatian publik bukan hanya karena kiprahnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga karena kisah hidupnya yang penuh keteladanan. Di balik jabatan dan seragam kepolisian yang melekat, AKP Abusono menjalani peran lain sebagai pedagang makanan rumahan siap saji. Senin (26/1/2026).
“Di kantor saya seorang Kapolsek, tapi di luar itu saya juga pedagang sate asin pedas, jus, dan roti bakar,” ungkap AKP Abusono dengan penuh ketulusan.
Bersama sang istri, yang merupakan pegawai BUMD, pasangan suami istri ini menjalankan usaha kuliner rumahan sebagai bentuk ikhtiar dan kerja keras demi membahagiakan keluarga. Meski memiliki usaha sampingan, AKP Abusono menegaskan bahwa tugas sebagai anggota Polri tetap menjadi prioritas utama.
“Kami melakukan semua ini karena kami punya keluarga yang ingin kami bahagiakan. Tapi kami tidak pernah mengesampingkan tugas kami, khususnya saya sebagai anggota Polri,” ujarnya.
Usaha kuliner tersebut dijalankan dengan penuh rasa syukur dan kejujuran. AKP Abusono mengaku bangga bisa berada di titik kehidupan saat ini, sembari terus berusaha dan bekerja keras bersama pasangan hidupnya.
“Kami sangat bersyukur sudah berada di titik ini. Terima kasih kepada pelanggan-pelanggan kami yang selama ini sudah mensupport usaha dagang kami,” ucapnya.
Lapak dagang pasangan inspiratif ini buka setiap hari pukul 16.30 hingga 22.00 WIB di Jalan Ahmad Yani, depan SMPN 2 Garut. Sementara pada Minggu pagi, lapak tersedia di Jalan Ibrahim Adjie, depan SPBU Rancabango, Tarogong.
Di tengah stigma dan anggapan soal gengsi, AKP Abusono justru menyampaikan pesan yang menginspirasi banyak orang.
“Gengsi? Oh tidak. Saya lebih memilih gaji tetap dan gaji tidak tetap. Yang penting halal,” tegasnya.
Kisah AKP Abusono dan istri menjadi potret nyata bahwa kerja keras, kejujuran, dan kesederhanaan adalah nilai yang tak pernah lekang, bahkan ketika seseorang berada di posisi dan jabatan strategis. Sebuah teladan bahwa pengabdian kepada negara dan ikhtiar untuk keluarga bisa berjalan beriringan.
(dk)




















