Selain ancaman longsor, sebanyak tujuh rumah warga juga terancam terendam banjir akibat luapan saluran air (selokan peuntas) yang tidak mampu menahan debit air ketika hujan deras. Kondisi ini membuat warga hidup dalam ketidakpastian dan rasa takut setiap kali cuaca memburuk.
Pihak Pemerintah Desa Sukaratu menyampaikan bahwa pengajuan perbaikan dan penanganan telah dilakukan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut sebanyak tiga kali sejak tahun 2024, namun hingga kini belum ada realisasi ataupun tindak lanjut di lapangan.
Keterlambatan penanganan ini menambah kekhawatiran warga akan potensi kejadian lebih besar yang membahayakan keselamatan.
Warga Kampung Panyeredan berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian khusus dengan melakukan penanganan darurat, pembangunan pengaman tebing, serta perbaikan saluran air.
Langkah cepat sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya korban jiwa dan kerugian material di wilayah tersebut.
Menurut Kepala Desa Sukaratu, Ade Ridwan S. Aji, kondisi yang dialami warga Panyeredan bukan lagi persoalan kecil yang bisa ditunda.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Longsor sudah terjadi empat kali, dan warga hidup dalam ketakutan setiap kali hujan turun. Ditambah lagi ada tujuh rumah yang terancam banjir karena luapan selokan peuntas,” tegas Ade Ridwan.
Ia menambahkan bahwa pemerintah desa sudah berupaya maksimal untuk meminta bantuan dan penanganan dari pihak terkait.
“Sejak 2024 kami sudah tiga kali mengajukan permohonan penanganan ke Dinas PUPR, lengkap dengan laporan dan dokumentasinya.
Namun sampai saat ini belum ada tindakan nyata. Kami berharap pemerintah daerah segera turun langsung dan memberikan penanganan darurat agar keselamatan warga dapat terjamin,” ungkapnya.
Ade Ridwan menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas utama.
“Kami tidak ingin menunggu sampai ada korban jiwa. Kami meminta dengan sangat agar penanganan ini segera direalisasikan sebelum situasi semakin memburuk,” ujarnya.
Salah satu warga yang rumahnya berada di wilayah rawan adalah Ade Ginanjar (47). Ia mengaku setiap hujan turun, dirinya dan keluarga tidak bisa tidur dengan tenang.
“Setiap hujan deras, kami langsung siaga. Takut longsor datang tiba-tiba. Sudah empat kali kejadian, dan kami benar-benar khawatir,” ungkap Ade Ginanjar dengan nada cemas.
Ia menjelaskan bahwa luapan air dari selokan peuntas juga menambah beban pikiran warga.
“Kalau air selokan meluap, rumah saya termasuk yang terancam kena banjir. Jadi dua ketakutan sekaligus longsor dan banjir. Kami ingin ada penanganan cepat sebelum terjadi hal-hal yang membahayakan,” jelasnya.
Ade Ginanjar berharap pemerintah segera mendengar keluhan warga.
“Kami mohon perhatian. Kami sudah terlalu lama hidup dalam rasa takut. Mudah-mudahan pemerintah segera turun tangan membantu kami,” harapnya.
(dk