Kadisparbud Bangga Kerajinan Kulit Sukaregang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat 2025 - Kilas Garut News

Kadisparbud Bangga Kerajinan Kulit Sukaregang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat 2025

Avatar photo

- Reporter

Selasa, 14 Januari 2025 - 08:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selain makanan Endog Lewo, Kerajinan kulit Sukaregang dari Kabupaten Garut kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat tahun 2025. Penetapan ini diumumkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Benny Bachtiar, bersama Tim WBTB Jawa Barat, Kamis (9/1/2025), setelah melalui serangkaian proses pengkajian dan sidang penetapan pada Desember 2024.

i

Selain makanan Endog Lewo, Kerajinan kulit Sukaregang dari Kabupaten Garut kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat tahun 2025. Penetapan ini diumumkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Benny Bachtiar, bersama Tim WBTB Jawa Barat, Kamis (9/1/2025), setelah melalui serangkaian proses pengkajian dan sidang penetapan pada Desember 2024.

KILASGARUTNEWS.id|Selain makanan Endog Lewo, Kerajinan kulit Sukaregang dari Kabupaten Garut kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat tahun 2025. Penetapan ini diumumkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Benny Bachtiar, bersama Tim WBTB Jawa Barat, Kamis (9/1/2025), setelah melalui serangkaian proses pengkajian dan sidang penetapan pada Desember 2024.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Luna Aviantrini, mengungkapkan rasa bangganya atas pengakuan ini. Ia menyebut bahwa kerajinan kulit Sukaregang adalah bagian penting dari identitas budaya Garut dan memiliki peran strategis dalam ekonomi kreatif daerah.

“Kerajinan kulit Sukaregang tidak hanya menjadi ikon kebanggaan Garut, tetapi juga menunjukkan kualitas dan kreativitas masyarakat kami. Proses panjang yang telah dilalui oleh para pengrajin sejak generasi ke generasi membuktikan bahwa produk ini layak diakui secara nasional maupun internasional,” ujar Luna, dalam keterangan resminya, Senin (13/1/2025)

Baca Juga :  Pastikan Wisata Aman, Bupati Garut Tinjau Pos Pengamanan Pantai Rancabuaya

Sejarah Panjang dan Kearifan Lokal

Kerajinan kulit Sukaregang telah berkembang sejak zaman kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Awalnya, produk kulit dari Sukaregang digunakan untuk membuat pelana sepeda dan jok delman. Setelah kemerdekaan Indonesia, industri ini dikelola oleh tokoh-tokoh lokal seperti Haji Muhtar dan Haji Usman, yang kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus seperti Haji Ayub dan Haji Ujang Solihin.

“Keunikan Sukaregang tidak hanya pada sejarahnya, tetapi juga pada teknik penyamakan kulit yang diwariskan secara turun-temurun. Bahan bakunya pun berasal dari hewan lokal seperti domba, sapi, dan kerbau, yang mencerminkan kearifan lokal Garut,” tambah Luna.

Proses Produksi Berkualitas Tinggi

Produk kulit Sukaregang melalui proses penyamakan dan produksi yang detail, mulai dari perendaman kulit mentah, penghilangan bulu, pewarnaan, hingga proses finishing untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Produk-produk unggulan seperti jaket kulit, tas, sepatu, hingga aksesori lainnya telah menarik minat pasar internasional, termasuk Malaysia, Korea, Hong Kong, dan Jepang.

Baca Juga :  Libur Panjang, Sat Polairud Tingkatkan Patroli di Pantai, 1000 Pengunjung Padati Pantai

Dorongan Pelestarian dan Inovasi

Luna menekankan pentingnya pelestarian budaya melalui inovasi. “Kami terus mendorong para pengrajin untuk berinovasi sesuai kebutuhan pasar modern, tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya. Dukungan pemerintah melalui penetapan sebagai WBTB menjadi motivasi tambahan untuk mempertahankan keberlanjutan industri ini,” katanya.

Dengan penetapan ini, Luna berharap kerajinan kulit Sukaregang dapat terus menjadi kebanggaan Garut dan Jawa Barat, sekaligus berkontribusi pada ekonomi daerah melalui pengembangan pasar yang lebih luas. “Kami juga optimis untuk mengupayakan agar kerajinan kulit Sukaregang diakui sebagai WBTB Nasional, bahkan warisan budaya dunia,” tutup Luna.

(Deden Kurnia).

Berita Terkait

Dari Polisi untuk Kemanusiaan, Donor Darah di Garut Disambut Antusias
Program MBG di Garut Terus Dievaluasi untuk Pelayanan Maksimal
Warga Bersyukur, Jembatan Armco Penghubung Dua Kampung di Kadungora Rampung
Aksi Cepat Polisi, ODGJ yang Resahkan Warga Dibawa ke Dinas Sosial
Abaikan Peringatan, Pria di Garut Tewas Kesetrum Saat Tebang Pohon
Sat Samapta Polres Garut Amankan Pilkades PAW di Cibatu
Unit Gakum Sat Lantas Polres Garut Tangani Laka Mobil Tabrak Warung Nasi Goreng
Manasik Haji Garut 2026 Digelar, 171 Jemaah Siap Berangkat Mei Mendatang
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 20:32 WIB

Dari Polisi untuk Kemanusiaan, Donor Darah di Garut Disambut Antusias

Kamis, 16 April 2026 - 20:23 WIB

Program MBG di Garut Terus Dievaluasi untuk Pelayanan Maksimal

Kamis, 16 April 2026 - 11:01 WIB

Warga Bersyukur, Jembatan Armco Penghubung Dua Kampung di Kadungora Rampung

Rabu, 15 April 2026 - 08:08 WIB

Aksi Cepat Polisi, ODGJ yang Resahkan Warga Dibawa ke Dinas Sosial

Selasa, 14 April 2026 - 16:57 WIB

Abaikan Peringatan, Pria di Garut Tewas Kesetrum Saat Tebang Pohon

Berita Terbaru

Redaksi Kilas

Dari Polisi untuk Kemanusiaan, Donor Darah di Garut Disambut Antusias

Kamis, 16 Apr 2026 - 20:32 WIB

Redaksi Kilas

Program MBG di Garut Terus Dievaluasi untuk Pelayanan Maksimal

Kamis, 16 Apr 2026 - 20:23 WIB

 

ALERT : Content Is Protected !!