KILASGARUTNEWS.id|Program pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2024/2025 di Kedusunan Sindangsari, Desa Simpang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, kini menjadi sorotan masyarakat.
Proyek yang menurut warga menelan anggaran sekitar Rp 200 juta untuk sumur bor dan sekitar Rp 170 juta untuk jaringan pipanisasi itu dinilai belum memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang menjadi sasaran program.
Ironisnya, di tengah besarnya anggaran yang telah digelontorkan, warga Kedusunan Sindangsari justru masih menghadapi krisis air bersih saat musim kemarau panjang. Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kekecewaan warga semakin besar karena saat proyek tersebut dilaksanakan, masyarakat sempat menaruh harapan tinggi terhadap hadirnya sumber air bersih yang dapat melayani satu kedusunan. Bahkan, sebagian warga meyakini pembangunan tersebut akan mendukung keberadaan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang layak bagi masyarakat. Namun hingga kini, harapan tersebut dinilai belum terwujud.
Di lapangan, warga melihat jaringan pipa telah terpasang hingga ke sejumlah titik permukiman. Akan tetapi, menurut mereka, keberadaan pipanisasi tersebut belum mampu menjawab kebutuhan air bersih yang selama ini menjadi persoalan utama masyarakat. Akibatnya, proyek yang semula diharapkan menjadi solusi justru memunculkan berbagai pertanyaan di tengah warga.
Masyarakat mendesak Inspektorat Kabupaten Garut serta instansi terkait untuk turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap proyek tersebut. Warga meminta dilakukan audit dan evaluasi menyeluruh guna memastikan apakah pekerjaan telah dilaksanakan sesuai perencanaan, spesifikasi teknis, dan tujuan awal pembangunan yang menggunakan anggaran negara.
Menurut warga, apabila proyek tersebut telah selesai dikerjakan namun belum dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, maka perlu ada penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai kendala yang terjadi. Transparansi dinilai penting agar tidak menimbulkan spekulasi dan kecurigaan di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Desa Simpang maupun pihak pelaksana kegiatan terkait kondisi dan pemanfaatan sumur bor serta jaringan pipanisasi tersebut. Media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang berkepentingan untuk memberikan penjelasan kepada publik.
(Dea)




























