Barnas Adjidin Sebut Garut Termasuk Daerah Angka Perkawinan Dini Yang Tinggi  - Kilas Garut News

Barnas Adjidin Sebut Garut Termasuk Daerah Angka Perkawinan Dini Yang Tinggi 

Avatar photo

- Reporter

Kamis, 11 Juli 2024 - 09:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KILASGARUTNEWS.id|Barnas Adjidin Sebut Garut Termasuk Daerah Angka Perkawinan Dini Yang Tinggi, anak putus sekolah, termasuk perkawinan anak yang memiliki risiko tinggi, akibatnya terjadi  perceraian karena ketidaksiapan anak dalam menjalani pernikahan.

Hal itu diungkapkan Barnas dihadapan peserta Pertemuan Multi Stakeholder dan Penguatan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dalam rangka mencegah perkawinan anak. Acara ini berlangsung di Aula Kantor DPPKBPPPA Garut, Jalan Terusan Pahlawan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Rabu (10/7/2024).

Menurut Barnas, seorang anak harus matang secara ekonomi, fisik, dan mental sebelum menikah, karena di kemudian hari akan menghadapi banyak tantangan setelah pernikahan.

“Ya stabil ekonominya, stabil fisiknya, stabil daripada mentalnya, karena akan menghadapi gelombang besar setelah pernikahan gitu ya,” ujar Barnas.

Barnas menyebutkan, Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah yang termasuk ke dalam daerah dengan angka perkawinan dini yang tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, Pj Bupati Garut  menekankan perlu dilakukannya upaya melalui edukasi kepada masyarakat khususnya para anak agar tidak melaksanakan perkawinan anak.

Ia pun berterima kasih kepada DP3AKB Provinsi Jawa Barat atas penyelenggaraan acara ini guna memperkuat upaya pencegahan perkawinan dini di Garut.

Baca Juga :  70 Ribu Warga Garut Menerima Program Kartu Prakerja

“Tentu kegiatan ini tidak hanya untuk menyelesaikan sesuatu yang harus kita selesaikan. Tapi merupakan langkah awal dari apa yang harus kita lakukan,” tambahnya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Garut mengadakan Pertemuan Multi Stakeholder dan Penguatan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) guna mencegah perkawinan anak. Acara ini berlangsung di Aula Kantor DPPKBPPPA Garut, Jalan Terusan Pahlawan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Rabu (10/7/2024).

Sementara itu, Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat, Siska Gerfianti, mengungkapkan, permasalahan perkawinan anak di Jawa Barat masih tinggi, meskipun angka dispensasi pernikahan menurun. Siska menuturkan, perkawinan anak bisa menjadi pintu masuk bagi masalah spesifik perempuan dan anak lainnya, seperti gangguan kesehatan reproduksi dan peningkatan angka kematian ibu dan bayi.

Siska menyoroti peningkatan angka perceraian sebagian disebabkan oleh perkawinan anak, di mana secara psikis pasangan tersebut belum siap sehingga hal ini dapat menimbulkan perselisihan. Ia mencatat angka perceraian di Jawa Barat naik mencapai rata-rata 90 ribu per tahun.

Baca Juga :  Rumah Rusmana Malam Ini Terancam Tergusur di Cisompet, Luapan Air Drainase Mengakibatkan Akses Jalan Terputus

“Betul angka perceraian kita naik. Memang masih di rata-rata 85 ribu sampai 98 ribu setiap tahun naik turun, kalau rata-rata mungkin 90 ribuan ya, tapi ini tentu kan harus kita turunkan,” ungkapnya.

Siska mengajak seluruh stakeholder untuk berkolaborasi dalam mencegah perkawinan anak dan menguatkan keluarga sebagai unit terkecil bangsa, sehingga keluarga dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga berdasarkan 5 pilar dimensi keluarga.

Senada dengan Siska, Sekretaris Daerah (sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengungkapkan, pernikahan anak memiliki beberapa dampak, salah satunya adalah meningkatnya angka perceraian, di mana di Kabupaten Garut angkanya mencapai 5.000 kasus dan beberapa persennya di antaranya adalah anak-anak.

Pemerintah Kabupaten Garut telah melakukan berbagai upaya, termasuk membentuk Forum Anak Daerah untuk memberikan edukasi langsung kepada anak-anak. “Sehingga mereka memiliki katakanlah knowledge atau pengetahuan dalam rangka mempersiapkan diri untuk masuk ke rumah tangga, jadi kalau agennya dari kalangan mereka, kan biasanya masuk,” ungkap Nurdin Yana

Ia berharap melalui kegiatan ini, angka perkawinan anak dapat menurun, angka perceraian berkurang, dan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Garut meningkat.(Deden Kurnia*).

Berita Terkait

Camat Cibalong Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan, Ancaman Longsor Mengintai Saat Cuaca Ekstrem
Tak Hanya Beri Dukungan Moril, Kapolres Garut Tawarkan Pekerjaan bagi Korban Kapal Virgo
Kemenkes Siapkan Investasi di Atas Rp100 Miliar untuk RSUD dr. Slamet Garut, Rotinsulu Dibidik Jadi RS Berkapasitas Besar
Banjir Sisakan Lumpur dan Sampah, Polsek Cisurupan Bersama Warga Bergerak
Operasi Patuh Lodaya 2026 Resmi Dimulai, Kapolres Garut Tegaskan Keselamatan, Pelanggaran Tak Bisa Diabaikan
Detik-Detik Perahu Nelayan Dihantam Ombak di Santolo, Tiga Nelayan Dilarikan ke Puskesmas
Tak Bedakan Agama, Kapolres Garut Pastikan Keamanan Ibadah Umat Kristiani
Polres Garut Sita 75 Botol Miras, Kapolres AKBP Niko Tegaskan Komitmen Jaga Kamtibmas
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Camat Cibalong Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan, Ancaman Longsor Mengintai Saat Cuaca Ekstrem

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:54 WIB

Tak Hanya Beri Dukungan Moril, Kapolres Garut Tawarkan Pekerjaan bagi Korban Kapal Virgo

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:16 WIB

Kemenkes Siapkan Investasi di Atas Rp100 Miliar untuk RSUD dr. Slamet Garut, Rotinsulu Dibidik Jadi RS Berkapasitas Besar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:57 WIB

Banjir Sisakan Lumpur dan Sampah, Polsek Cisurupan Bersama Warga Bergerak

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:32 WIB

Operasi Patuh Lodaya 2026 Resmi Dimulai, Kapolres Garut Tegaskan Keselamatan, Pelanggaran Tak Bisa Diabaikan

Berita Terbaru

 

ALERT : Content Is Protected !!